Sabtu, 25 Juni 2011

INSTRUMENTASI KELAUTAN BERBASIS AKUSTIK
REMOTELY OPERATED VEHICLE (ROV)

I.              Pendahuluan
Definisi ROV (Remotely Operated Vehicle) menurut Marine Technology Society ROV Committee's dalam "Operational Guidelines for ROVs" (1984) dan The National Research Council Committee's dalam "Undersea Vehicles and National Needs" (1996) adalah sebuah robot bawah laut yang dikendalikan oleh operator ROV, untuk tetap dalam kondisi yang aman, pada saat ROV bekerja di lingkungan yang berbahaya. Remotely Operated Vehicle adalah salah satu metode untuk mengendalikan “Vehicle” secara manual dari jarak jauh.
ROV tersusun dari satu set pengapung besar di atas sasis baja atau aluminium. Pengapung itu biasanya terbuat dari busa sintetis. Di bagian bawah konstruksi terpasang alat-alat sensor yang berat. Komposisi ini--komponen ringan di atas dan berat di bawah--akan menghasilkan pemisahan yang besar antara pusat apung dan pusat gravitasi. Maka alat ini pun lebih stabil di dasar laut saat melakukan tugas-tugasnya. ROV memiliki kemampuan manuver yang tinggi. Kabel tambat berfungsi mengirimkan energi listrik serta data video dan sinyal. Saat bertugas memasang kabel-kabel listrik tegangan tinggi, ROV biasanya ditambahkan tenaga hidrolik (Syamsul, 2011).
Dalam perkembangannya kini, pemakaian ROV banyak digunakan baik untuk kepentingan kalangan militer, bisnis atau komersial, maupun akademis dan riset. Sekarang berbagai pasar sedang menemukan kebutuhan untuk ROV seperti ilmu kelautan, pemancingan, teknik sipil, keamanan, pendeteksian kandungan mineral dan lain sebagainya. Kini, ROV menjadi multiguna. Antara lain untuk tujuan dokumentasi den eksplorasi dasar laut, penanggulangan, penyelidikan, pencarian dan pertolongan (SAR), pengeboran tambang, penggalian/penguburan bentangan kabel dan lain sebagainya.

II.           Pembahasan
Sistem ROV terdiri atas vehicle (atau sering disebut ROV itu sendiri), yang terhubung oleh kabel umbilical ke ruangan kontrol dan operator di atas permukaan air (bisa di kapal, rig atau barge). Yang paling penting adalah sistem kendali, sistem peluncuran dan sistem suplai tenaga listrik maupun hidrolik. Melalui kabel umbilical, tenaga listrik dan hidrolik, juga perintah-perintah, atau sinyal-sinyal kontrol, disampaikan dari ruang kontrol ke ROV, secara dua arah. ROV dilengkapi dengan peralatan atau sensor tertentu seperti kamera video, transponder, kompas, odometer, bathy (data kedalaman) dan lain-lain tergantung dari keperluan dan tujuan surveinya (Syamsul, 2011). Menurut Syamsul (2011) ROV dapat diaplikasikan pada bidang pertambangan, telekomunikasi, dan riset.
A.  Bidang pertambangan, minyak dan lepas pantai
Di bidang pertambangan, perminyakan dan gas lepas pantai, baik di dalam maupun luar negeri, penggunaan ROV sudah tidak asing lagi. Mulai dari perencanaan, pemasangan atau konstruksi sampai dengan perawatan fasilitas bawah laut tidak lepas dari peran ROV. Demikian juga untuk keperluan pertambangan, jasa ROV pernah digunakan oleh salah satu perusahaan tambang emas di Sumbawa pada tahun 1999-2000 dalam rangka pemasangan dan monitoring tailing line (pembuangan limbah) di palung laut selat Alas, Nusa Tenggara Barat.
Aplikasi teknologi ROV di dunia pengeboran minyak dan gas lepas pantai adalah antara lain sebagai berikut:
1. Menyertai para penyelam, untuk meyakinkan bahwa para penyelam dalam keadaan aman dan siap memberi bantuan.
2. Inspeksi atau pemeriksaan anjungan atau kilang minyak, dari mulai pemeriksaan visual sampai menggunakan alat tertentu untuk memonitor efek dari korosi, kesalahan konstruksi, mencari lokasi keretakan, estimasi biologi untuk pencemaran.
3. Inspeksi Jalur pipa, mengikuti jalur pipa bawah laut untuk mengecek adanya kebocoran, menentukan perkiraan umur pipa dan meyakinkan bila instalasi pipa dalam kondisi baik.
4. Survei, baik visual maupun survei menggunakan gelombang suara, diperlukan sebelum pemasangan pipa, kabel, dan fasilitas bawah laut lainnya.
5. Pendukung pengeboran dan konstruksi, dari inspeksi visual, memonitor pelaksanaan pengeboran dan konstruksi, sampai melakukan perbaikan-perbaikan jika diperlukan.
6. Memindahkan benda-benda berbahaya di dasar laut, terutama di sekitar fasilitas bangunan seperti kilang minyak. ROV terbukti lebih bisa menekan biaya untuk menjaga daerah tersebut tetap aman dan bersih.
7.  Pada pekerjaan pemotongan bawah air (underwater thermal cutting).
8.   Menutup Kebocoran Sumur Minyak Bawah Laut.
B.  Bidang telekomunikasi
Pemanfaatan ROV dalam bidang telekomunikasi adalah guna mendukung pekerjaan pemasangan kabel telekomunikasi bawah laut, selain memonitor, juga menjaga agar pemasangan kabel sesuai dengan prosedur sehingga terlindung dari gangguan nelayan (kapal trawler) dan kemungkinan kapal membuang jangkar.
C.  Bidang riset
ROV mampu menginvestigasi perubahan-perubahan yang terjadi di dasar laut pasca gempa dan tsunami. Selain itu adalah guna mendukung dalam pemetaan lokasi berbagai harta karun terpendam di perairan laut dalam Indonesia, keanekaragaman hayati, termasuk bebarapa species ikan langka yang disinyalir berada di perairan Indonesia dan "Deep Ocean Water" (perairan laut-dalam). Melalui survei dan studi dengan menggunakan alat ROV tidak berhenti sebatas pengetahuan, melainkan kearah industri seperti pengembangan air dalam kemasan dengan menggunakan bahan baku air laut-dalam. Di Jepang misalnya untuk air kemasan seperti itu sudah dikembangkan. Air mineral itu dapat dikembangkan sebagai sumber air yang sehat dan lebih baik kualitasnya daripada air mineral dari sumber air di daratan.
Menurut Rizki (2008) ROV diklasifikasikan berdasarkan ukuran, berat dan kekuatannya, yang dibagi sebagai berikut :
1.      Micro-ROV. Tipe mikro memiliki ukuran dan berat yang sangat kecil. Sekarang beratnya bisa di bawah 3 kg. ROV ini biasa digunakan untuk membantu penyelam, secara spesifik untuk mengakses tempat yang tidak bisa dijangkau seperti gua kecil dan jalur pipa.
2.      Mini-ROV. Tipe mini memiliki kurang lebih 15 kg. ROV jenis mini dapat dikendarai oleh satu orang seperti kapal kecil. Tipe ini memiliki kekuatan di bawah 5 HP. Biasanya dilengkapi unti sonar dan digunakan untuk survei bawah air. Tipe ini dapat mencapai kedalaman dibawah 1000 meter dan ada juga yang dibuat untuk mencapai kedalaman 7000 meter.
3.      Light Worcklass. Tipe ini memiliki kekuatan kira-kira 50 HP. Dibuat dengan polyethylene, stainless steel atau campuran alumunium. Tipe ini mampu mencapai kedalaman di bawah 2000 meter.
4.      Heavy Workclass. Tipe ini memiliki kekuatan kira-kira 220 HP dan dapat mencapai kedalaman sampai dengan 3500 meter.
5.      Trenching/burial. Tipe ini memiliki kekuatan lebih dari 200 HP dan dapat mencapai kedalaman sampai 6000 meter.



III.        Kesimpulan
ROV adalah instrumentasi kelautan yang digunakan untuk membantu proses pekerjaan manusia di bawah laut. Aplikasi ROV digunakan pada bidang pertambangan, telekomunikasi, dan riset. Penggunaan ROV memerlukan operator untuk menggunakannya. Seperti instrumentasi kelautan lainnya ROV juga dapat dipengaruhi oleh noise dari gelombang air laut yang dapat merusak output ari display operator. Berdasarkan ukuran, berat dan kekuatannya ROV dapat dibagi menjadi lima yaitu Micro-ROV, Mini-ROV, light Workclass,Heavy Workclass, dan Trenching/burial.





DAFTAR PUSTAKA
Marine Technology Society ROV Committee's "Operational Guidelines for ROVs" (1984).
Rizki, Ilham. 2008. “Pengembangan Prototipe Remotely Operated Vehicle (ROV) : Aspek Mekanis”, Skripsi, Fakultas Perikanan dan Ilmu kelautan IPB.
Syamsul. 2011. “ROV (Remotely Operated Vehicle) dan aplikasiny”. http://ocean-eng.blogspot.com/2011/01/rov-remotely-operated-vehicle-dan.html (diakses tanggal 18 Juni 2011).
The National Research Council Committee's dalam "Undersea Vehicles and National Needs" (1996).


2 komentar: